Sabtu, 03 Oktober 2015

BROKEN HOME BROKEN HEART



BROKEN HOME BROKEN HEART
Rasanya dipagi hari aku ingin terbangun oleh ocehan mama yang terus mengomel karena anaknya yang masih saja bersahabat dengan selimut. Rasanya aku ingin terbangun dan melihat papa membaca koran dengan segelas kopi dihadapanya dan aku rindu melihat kakak yang selalu ribut ketika akan berangkat sekolah, aku pun rindu kebersamaan canda tawa di meja makan saat pagi hari sebelum kita beraktifitas aku juga ingin kembali rasanya mencium tangan mama dan papa sebelum berangkat ke sekolah dan rindu akan perselisihan-perselisihan di keluarga kecil kita, bukankan inginku sederhana tetapi sangat tidak mungkin untuk di wujudkan.
Pagi datang menyapa dengan meniupkan angin yang berhembus sepoi-sepoi, membuat aku terbangun  dan langsung mandi kemudian berangkat sekolah, seperti biasanya aku selalu berangkat bersama sahabatku dia bernama Ratih kita suduh berteman sejak kita masih umur 5 tahun dan masih sampai sekarang, dan akupun datang kerumahnya
Aku “ buruan, tih nanti kita terlambat”
Ratih “ sebentar,sebentar lagi ya”
(kulihat dia sedang mencium tangan kedua orang tuanya)
Aku “ ya, cepetan dong!!!nanti kita terlamabat beneran ini lo.
Ratih “ iya,iya ayo kita berangkat.
Aku pun bergegas berangkat sekolah agar kita berdua tidak terlambat berangkat sekolah.  Setelah sampai disekolah kita bedua bercerita tentang keadaan masing-masing atau unek-sunek yang ada di pikiran kita,
Aku “ kamu ada masalah ngak? Akhir-akhir ini
Ratih “ ada sih tapi masalah kecil kok
Aku” apaan coba, cerita dong”
Ratih “ gini  aku minta sama papa untuk ngebellin hp baru”
Aku “ ya, tuhann kamu itu kalau papah kamu punya uang pasti kamu sudah dibellin lah tih”
Ratih “ iya.iya aku ngerti kok. Eh kamu ada masalah apa kok akhir-akhir ini kayaknya
Dirumah kamu kok selalu berisik terus, ada masalah apa?”
Aku” biasalah, mama sama papah, mereka sekarang  sering bertengkar.
Ratih” Sabar ya , kamu gak usah mikirin kaya gitu yang penting kamu ngak ngesusahin orang       lain dan tidak merepotkan mereka”
Aku “ iya , aku juga percaya bahwa tuhan telah menulis takdir-takdir yang indah di atas sana        untuk keluarga ku  yaitu kebahagiaan , entah sampai kapan tapi aku akan percaya          tuhan memberi tantangkan kepada umatnya pasti juga dengan kesanggupan umatnya
Ratih “ iya, aku juga yakin itu.
 Perasaan iri itu nyata, Karena rumahku tidak seperti rumahmu, karena rumahku tidak senyaman rumahmu. Itulah sebabnya aku lebih bahagia berada di luar rumah
Ya, aku engak pernah iri dengan kalian yang duduk bercanda, bermain dan jalan bergandengan  bersama pacar kalian tapi.  Aku iri melihat kalian yang bisa duduk bersama keluaraga, Aku iri melihat kalian yang jalan bareng bersama keluarga,aku iri melihat kalian yang bisa foto bersama bareng keluaraga kalian,  Aku iri melihat kalian yang bisa bercanda bareng bersama keluarga kalian,Aku iri melihat kalian yang bermanja-manjaan ria dengan keluarga kalian, Aku iri melihat kalian yang di telfon ditanyakan kapan pulang,  dan Aku iri segalanya yang kalian punya saat bersama keluarga kalian. Tapi Aku juga punya keluarga kok, tetapi keluargaku beda.  Beda karena yang dimaksud dengan keluarga kan adanya seorang papa dan seorang mama dan juga ada kakak. Tetapi keluargaku bukan seperti kalian, keluargaku hanya ada ibu dan aku seorang sekarang,
Suatu hari aku pergi dan lupa berpamitan dengan mama , aku pun pulang cukup larut malam
Mama “ darimana aja kamu, pulang jam segini” (dengan nada keras)
Aku “ tadi aku habis main dirumah temen”
Mama” kamu itu gimana kalau mau pergi bilang-bilang ngak ngrepotin orang yang dirumah,
            Kalau kamu gak suka mendingan sana kamu ikut sama papah kamu!
Aku (akupun langsung lari kekamar dan menutup pintu secepat-cepatnya)
Dan dalam hatiku yang paling dalam berkata “Mengapa tuhan tidak adil, apa salah ku       mengapa tidak temanku saja yang mengalami ini semua, mengapa bisa terjadi padaku,        tuhaan sangat tidak adil. Mengapa tuhan mengapa!”
Dan sejak saat itu aku mulai untuk tidak ada yang namanya bermain dengan teman-teman kecuali teman terdekatku, hingga saat ini aku masih kalau bertaman harus sangat pilih-pilih antara negatif dan pasitif,
Pernah di pagi hari aku bangun untuk mandi dan bersiap-siap berangkat sekolah, dan aku melihat mamahku terlihat nyata kerutan-kerutan di wajahnya dan rambut kepala yang mulai tumbuh uban terlihat sekali betapa dia lelah memikirkan diriku dan menghidupiku, tetapi ia tidak akan pernah sanggup mengatakan kalau dia sudah lelah, dihadapanku ia terlihat sangat bersemangat untuk bekerja.  Dan sejak itulah aku sudah mulai mandiri , apa yang bisa aku lakukan sendiri pasti akan aku lakukan sendiri.
Aku merasa malu ketika orang-orang akhirnya mengetahui kehidupan keluargaku, suatu kisah yang aku simpan rapat-rapat dan tidak ingin menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak ingin aku jawab, dimana mama/papa kamu?kakak kamu dimana?, adalah segelintir pertanyaan yang sangat tidak aku sukai, pertanyaan sederhana namun mampu menggali luka lama yang sudah sejak lama aku kubur. jujur, aku tidak suka ketika ditanya-tanya soal keluarga, ada rasa sesak yang tercipta, Menjawab seadanya, mencoba mengalihkan topik dan berharap tidak ada lagi pertanyaan yang timbul.
Suatu hari disekolah waktu istirahat tiba, aku dan teman-teman dekatku kumpul-kumpul
Rudi “eh,kemarin wekkend kamu kemana rim?”
Rima “ kemarin aku ke pantai, kalau kamu kemana al”
Aladi “ kalau aku kemarin sih jalan-jalan ke   tempat wisata”
Aku “ ehh, tugas kalian udah jadi belum , nanti dinilai loh,
Rudi,Rima,Aldi ‘ mana kamu udah buat belum kalau udah aku contekin’
Aku “ini buruan di buat”
Hal tersebut lah yang hanya dapat aku lakukan mengalihkan pembicaraan yang akan mengarah kepada ku
Keluarga temanku,keluarga baruku. Aku mendapat sedikit cahaya yang memancarkan kebahagiaan, saat dirumahku tidak menyajikan hal tersebut. Kebahagiaan itu aku dapatkan ketika berada dirumah sahabatku, hidu di tengah-tengah mereka sangat menyenangkan. Aku merasakan kehangatan dalam sebuah keluarga, hidup di antara mereka membuatku sedikit iri namun tetap bahagia, ayah ibu dan saudara-saudaranya begitu baik. Mengajakku duduk bersama di sebuah meja makan untuk menikmati makan malam walau dengan lauk sederhana, hal yang tidak pernah terjadi dii meja makan rumahku, mereka terlihat sangat senang mereka pun sambil bercanda satu sama lain. Berada dirumah sahabatku sedikit membuat hatiku damai, aku menemukan sebuah keluarga baru di rumahnya.
Jika hidup itu pilihan, aku dan diriku pasti akan memilih untuk tinggal dan bersama dengan keluarga yang utuh. Namun kenyataanya? Aku tidak dapat memilih, begitu pula dengan diriku. Diriku tidak diberi kesempatan untuk menentukan keluaraga mana diriku akan tinggal! Jadi,sebenarnya hidup itu takdir, hidup itu sebuah kenyataan yang memang harus dihadapi. Bukan sebuah pilihan.
Dan keadaan ini membuatku lebih dewasa dan mandiri, keadaan ini membuatku menjadi pribadi yang lebih kuat,tabah dan sabar. Terimakasih Ma.terimakasih pa, terimakasih atas pelajaran hidup ini. Pelajaran yang sangat berarti untuku yang tidak bisa aku dapatkan di sekolah maupun di tempat lain. Kalian tetap menjadi mama dan papa yang paling hebat di hidup aku, aku ngak akan pernah menjadi anak yang sekuat ini tanpa masalah yang aku alami, aku lebih mandiri darianak-anak seusiaku, semua bisa aku kerjakan sendiri, walau tanpa support dari kalian, aku percaya tuhan tidakakan pernah membiarkanku sendiri, tuhan tidak pernah membiarkanku sedih, tuhan selalu bersamaku. Tuhan akan buktikan semua akan indah pada waktunya. Aku sayang kalian maa,paa
Kebahagiaan ku mugkin tidak sekarang tapi kelak disaat aku memiliki keluarga sendiri. Maa Paa aku tidak menyebut kalian perusak kehidupan tapi aku menyebut kalian penguat kehidupan. dan juga terimakasih buat teman-teman terdekatku
“Kebahagiaan sebenarnya telah ada dalam dirimu, seperti senyum yang memang sudah indah terpahat pada wajahmu, jangan biarkan amarah menghalanginya dengan alasan-alasan surgamu tak berpenghuni,sebenarnya tidak, mereka hanya tersesat, kau hanya perlu menjadi arah untuk mengatur mereka pulang ke surgamu (kebahagiaanmu).”

Senin, 24 Agustus 2015

‘’Engkau lah penguat hidupku’’



Tetesan embun di pagi hari seakan-akan menyejukan hati. anggap lah saja nama aku martin aku merupakan anak yang terlahir dari keluarga yang bisa di bilang bekecukupan aku merupakan anak kedua dari dua bersaudara. sewaktu masih kecil aku selalu mempunyai yang anak seusiaku perlukan yaitu  kasih sayang, tapi semua kenangan itu sirna bagaikan menantikan pelangi di malam hari. ini benar-benar mustahil dan tak terpikirkan oleh ku sebelumnya. Tak pernah terpikirkan olehku pula cerita ini . malam ini dan hari ini aku dengan sengaja menuliskan kisahku ini di malam hari ini sambil mengingat-ingat sejarah yang dulu pernah  aku alami seakan-akan telah membentuk prasasti dalam pikiranku ini yang masih aku ingat sampai saat ini . Dan inilah kisahku
Saat aku berusia sekitar 5-6 tahun. masih bersekolah di taman kanak-kanak. Ya aku seperti anak pada ummnya yang masih di temani mama untuk beberapa kali berangkat sekolah , saat usiaku seperti itu aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan misalkan saja aku berkata pada mamahku ‘’mah, tolong nanti aku beliin ice cream yah’’. Mamah menjawab ‘’ ya nanti mamah bellin setelah pulang sekolah’’, dan sampai akhirnya aku mulai masuk sekolah dasar sewaktu aku kelas 1 setiap 1 minggu sekali tepatnya di hari minggu , aku belum bilang besok mau jalan-jalan kemana , orang tua ku pun telah mempunyai rencena jauh-jauh hari sebelumnya , yah tepatnya setiap hai minggu kami sekeluarga termasuk aku dan kakak perempuanku selalu senang karena kita selalu berpergian ke kota lama semarang dan tempat-tempat wisata lainya kita selalu berangkat minggu pagi katanya agar tak terkena kemacetan dan aku melihat sesuatu yang aku belum punyai iya saat itu mainan ‘’pah, aku ingin mainan itu’’ kataku, ia pun menjawab ‘’ia nanti papah belikan’’ semenjak itu aku selalu befikir kalau keluargaku akan begini seterusnya ya namanya juga masih kecil tidak tahu apa-apa.
2 tahun berlalu  sekitar aku umur 8 tahunan aku  binggung dengan apa yang tejadi dengan mama dan papaku ,mereka saling bertengkar dan semenjak saat itu kami tidak pernah lagi berpergian bersama-sama, waktu demi waktu mama dan papaku selalu ribut , aku yang berarda dalam kamarku mendengar suara pecahan gelas, pecahan piring  aku pun mulai tebiasa dengan suara-suara seperti itu dan itupun selalu berjalan tahun demi tahun. Sampai akhirnya aku pun sudah kelas 6 sekolah dasar dimana teman-teman seusiaku tengah sibuk mempersiapkan untuk ujian nasional,
Suatu hari sewaktu aku belajar merekapun bertengkar di hadapanku akupun hanya terdiam dan memandang mereka penuh perasaan kecewa dan binggung, merekan saling melontarkan kata-kata yang seharusnya tidak pantes di lontarkan di hadapan anaknya , pernah di pagi hari aku tengah sibuk akan berangkat sekolah mereka sudah mulai duluan di pagi hari  aku pun memutuskan untuk tidak berangkat sekolah, tetapi setelah papahku berangkat kerja , mama ku menyuruhku untuk berangkat sekolah aku pun diantarkan sanpai sekolah aku pun terlambat , aku hanya menagis dan sedang aku duduk didepan kelas wali kelaskupun datang ‘’kenapa,kamu kok terlambat dan kayak nangis’’ akupun tidak menjawabnya , ‘’ini kok tadi kesiangan, tadi kelilipan’’ sahut mamaku, yang ada dalam pikiranku adalah mengapa mereka tidak mengatakan sesunguhnya.
Aku pun sekarang sudah sma dan keluargaku masih sama seperti dulu mama dan papaku akhirnya berpisah bukan bercerai.  Semenjak itu aku  menjadi orang yang tertutup dengan siapapun.dan akupun telah mengerti apa yang aku alami bisa disebut dengan istilah yang namanya brokenhome. Masih banyak yang belum aku ceritakan tetapi dari kejadiaan tersebut aku mulai berfikir broken home merupakan sebuah takdir yang harus dijalani dan akupun tidak menyalahkan kedua orang tuaku! Dan akupun juga percaya bahwa apa yang mereka pilih merupakan pilihan yang terbaik untuk anak-anaknya kelak.tapi aku tetep mau bilang terimakasih mah,pah buat pelajaran hidup yang kalian berikan kalian tetap menjadi mama dan papa yang hebat di hidup aku, aku tidak akan pernah jadi anak yang sekuat ini tanpa masalah yang aku alami. Aku lebih mandiri dari anak-anak seusiaku, semua bisa aku kejakan sendiri walaupun tanpa support dari kalian. Aku percaya tuhan tidak akan pernah membiarkan aku sendiri dan sedih karna aku yakin semua akan indah pada waktunya .Setelah aku mengalami hal tersebut aku sekarang menjadi anak yang cukup mandiri yang tidak menjagakan orang tua dan yang paling aku acuhkan adalah pandangan orang-orang mengenai anak-anak yang terlahir dari keluarga yang kurang harmonis/brokenhome adalah mereka seakan-akan melihat kami dengan penuh kejijikan atau selalu berpandangan negatif tentang kami. Tetapi tidak semua anak broken home seperti itu tergantung dari anak itu sendiri.  Dan akupun selalu memikirkan suatu hari jika aku sudah memiliki keluarga aku akan mempetahankanya aku tidak mau anakku kelak merasakan apa yang di rasakan ayahnya.
Ma,pa
Kami tidak dapat menyebutmu ‘’perusak kebahagiaan’’ tetapi kami harus menyebutmu ‘’penguat kehidupan’’

Sabtu, 08 Agustus 2015

Analisis cerpen (juru masak)

I.            Unsur Intrinsik

A.   Judul        : Juru Masak

B.  Tema         :  Bidang Keahlian

C.  Setting       :

a)    Tempat

-        Lareh Panjang : ( Makaji yang merupakan juru masak nomer satu di Lareh Panjang.)

-         Rumah Mangkudun : ( Kenduri di rumah Mangkudun begitu

Semarak.)

b)    Waktu

-         Beberapa tahun lalu : ( Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamdji yang digelar dengan menyembilih tiga belas ekor kambing dan berlangsung tiga hari.)

-         Sejak dulu : ( Sejak dulu, Makaji tidak pernah keberatan membantu keluarga mana saja.)

-         Kini : ( Azrial kini sudah menjadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh empat anak buah yang tiap hari melayani pelanggan.)

-         Sejak ibunya meninggal : ( Sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah tidak ada yang merawat.)

-         Dua hari sebelum perhelatan berlangsung : ( Dua hari sebelum perhelatan berlangsung, Azrial putra dari makaji dating dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput makaji.)

c)     Suasana

-         Kacau : ( Apabila Makaji tidak dilibatkan gulai kambing akan terasa hambar.)

-         Bingung : ( Rombongan mempelai pria tiba, gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung, dan aneka hidangan yang tersaji bukan masakan Makaji.)

-         Kesal : ( Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, kenduri tak usah dilanjutkan!.)

-         Debat : ( “Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”

 “ Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,”balas Makaji.)

-         Sedih : ( Dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni.)


D.    Tokoh dan Watak :

a)    . Makaji

-         Baik hati : ( Makaji tidak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta.)

-         Pekerja keras : ( Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.)

-         Tanggung jawab : ( Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi, anak gadis Mangkudun dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.)

b)    Mangkudun

-         Sombong : ( Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!)

-          Keras kepala : ( Mangkudun benar-benar menepati janji Renggogeni , bahwa ia akan mencarikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya.)

c)     Azrial

-         Baik hati : ( Bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.)

-         Pendendam : ( Dengan maksud mengacaukan perhelatan  Mangkudun, Makaji diboyong ke Jakarta oleh Azrial.)

-         Pekerja keras : ( Awalnya ia hanya tukang cuci piting di rumah makan milik seorang perantau, kini Azrial sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh empat anak buah.)

d)     Renggogeni

-         Baik hati : ( Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab.)

-         Pintar : ( Tidak banyak orang Lereh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni.)

-         Penurut : ( Karena menuruti kemauan Ayahnya untuk di jodohkan.)




E.   Alur

Alunya yaitu maju mundur atau campuran.


F.    Sudut Pandang

Sudut Pandangnya yaitu orang ketiga serba tahu

Karena pengarang sudah mengetahui apa yang akan terjadi jika tidak ada Makji.


G.   Amanat

-         Janganlah memaki seseorang jika suatu saat akan membutuhkannya.

-         Jangan mempunyai rasa dendam kepada siapapun yang telah menyakiti tapi berpikirlah kedepan.

-         Jaga, hormati, dan lindungi orangtua kita.

-         Kunci kesuksesan yaitu adanya usaha, kerja keras, dam kegigihan.

-         Hilangkan sifat sombong yang akan menjerumuskanmu pada penderitaan.

-         Jangan memaksakan sesuatu yang tak di kehendakin karena akan berakibat buruk kedepannya.


   II.            Unsur Ekstrinsik


A)   Nilai Sosial

( Makaji tidak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta.)

B)    Nilai Budaya

( Dengan adanya khas budaya dari Lareh Panjang yaitu berupa makanan seperti : Gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung,  adanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lereh Panjang, dan adanya pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinana.)

C)   Nilai Moral

( Buruk : “Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masal!”.

Baik : “ Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.”)